“Hakikat Pelayanan Bagi Anak Luar Biasa (ALB)”

MAKALAH ORTOPEDAGOGIK “Hakikat Pelayanan Bagi Anak Luar Biasa (ALB)” Disusun oleh : Kelompok 2 : 1. Yenny Eka Herlin B.M. (071644008) 2. Tri Juni Harto (071644009) 3. Nurika (071644024) 4. Sundari (071644045) 5. Rachmat Nazaruddin W (071644282) PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA 2009 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Ortopedagogik dengan judul “Hakikat Pelayanan Bagi anak Luar Biasa”. Pengantar pendidikan luar biasa (Pengantar PLB) merupakan mata kuliah pengantar yang secara umum mengajak kita membahas karakteristik dan kebutuhan pendidikan anak luar biasa (ALB). Materi yang disajikan dalam mata kuliah ini berupa hakikat keluarbiasaan dan pelayanan ALB. Pembuatan makalah ini tidak terlepas dari bantuan orang lain , maka dari itu kami ucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing mata kuliah ortopedagogik dan teman-teman yang selalu bekerja sama. Tiada gading yang tak retak,tiada manusia yang sempurna. Oleh karenanya kami mohon maaf atas tulisan kami yang sangat jauh dari kesempurnaan ini. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini , kami ucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Surabaya , 18 Februari 2009 Penyusun DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL 1 KATA PENGANTAR 2 DAFTAR ISI 3 BAB I PENDAHULUAN 4 BAB II PEMBAHASAN 5 I. Pengertian Pelayanan dan Sejarah Perkembangan Pelayanan PLB di Indonesia 5 A. Definisi pelayanan 6 1. Makna dan Jenis Pelayanan Bagi Anak Luar Biasa 6 2. Sejarah Perkembangan Layanan Pendidikan Luar Biasa (PLB) 8 II. Berbagai Bentuk Dan Jenis Layanan Bagi Anak Luar Biasa 11 A. Pelayanan Segregasi dan Integrasi 12 B. Model atau Jenis Pelayanan yang Dapat Disediakan Bagi ALB 17 C. Pendekatan Kolaboratif dalam Pelayanan ALB 18 D. Bagaimana Model Pelayanan Pendidikan 20 E. Ketenagaan Khusus, Kurikulum dan Administrasi 22 BAB III PENUTUP 25 DAFTAR PUSTAKA 26 BAB I PENDAHULUAN Setelah memahami hakikat keluarbiasaan yang mencakup devinisi, jenis, dan dampak keluarbiasaan, serta kebutuhan, hak, dan kewajiban anak luar biasa. Dalam makalah ini kami akan mengkaji hakikat pelayanan bagi anak luar biasa, yang mencakup kajian tentang pengertian dan sejarah pelayanan Pendidikan Luar Biasa (PLB) di indonesia,bentuk pelayanan segregasi dan integrasi, karakteristik berbagai jenis pelayanan, serta pendekatan kolaboratif dalam pelayanan ALB. Penguasaan terhadap materi tersebut akan memperluas wawasan kami dalam berbagai jenis layanan ALB. Wawasan ini akan mempermudah tugas-tugas kami dalam memberikan pelayanan bagi ALB yang mungkin ada di kelas kami nantinya. Pelayanan bagi anak luar biasa (ALB) merupakan suatu kebutuhan untuk mengembangkan potensi yang di miliki ALB secara optimal. Kami telah mengetahui berbagai bentuk dan jenis pelayanan bagi ALB, seperti Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Unggul, Sekolah Terpadu atau Panti Rehabilitasi. Semua bentuk pelayanan ini mempunyai tujuan dan ciri khas masing-masing. Namun demikaian, tidak jarang bentuk dan pelayanan tersebut menimbulkan perbedaan pendapat dikalangan para pakar dan masyarakat luas. Bagaimana seyogyanya kita bersikap dan menempatkan informasi secara benar? Untuk itu kami membuat makalah ini yang bertujuan untuk : a. Menjelaskan pengertian pelayanan bagi ALB b. Menjelaskan makna dan jenis pelayanan bagi ALB c. Menjelaskan sejarah perkembangan pelayanan PLB, khususnya di Indonesia d. Membedakan bentuk pelayanan segregasi dan bentuk pelayanan integrasi e. Menjelaskan karakteristik berbagai jenis pelayanan f. Menjelaskan pendekatan kolaboratif dalam pelayanan ALB. BAB II PEMBAHASAN HAKIKAT PELAYANAN BAGI ANAK LUAR BIASA (ALB) I. Pengertian Pelayanan dan Sejarah Perkembangan Pelayanan PLB di Indonesia Pelayanan bagi ALB adalah Jasa yang diberikan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan para ALB. Kebutuhan tersebut terdiri dari kebutuhan fisik dan kesehatan, kebutuhan yang berkaitan dengan emosional-sosial, dan kebutuhan pendidikan. Tersedianya pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan merupakan faktor kunci bagi perkembangan ALB. Keberadaan para penyandang keluarbiasaan ditandai sejak zaman purba yang masih primitif, sampai zaman yang paling mutakhir, yang ditandai dengan kecanggihan teknologi. Pada awalnya, perlakuan terhadap para penyandang keluarbiasaan sangat menyedihkan. Karena pengaruh mistik dan berbagai kepercayaan, para penyandang keluarbiasaan dikucilkan, bahkan ada yang dimusnahkan ketika masih bayi. Layanan terhadap penyandang keluarbiasaan dapat ditelusuri mulai abad ke-16, ketika di Spanyol seorang anak tuna rungu sejak lahir berhasil dididik. Di Amerika layanan ini baru mulai pada tahun 1817, dan di Indonesia dapat ditelusuri mulai tahun 1901. Penyediaan layanan bagi ALB di Indonesia tidak semaju di negara lain. Namun, perhatian masyarakat dan pemerintah makin lama makin besar, sehingga berbagai sekolah untuk ALB mulai didirikan. Perkembangan yang menggembirakan dari jumlah sekolah dan jumlah siswa merupakan pertanda meningkatnya pelayanan bagi ALB. Meskipun peran swasta sangat besar dalam penyediaan layanan bagi ALB, namun perhatian pemerintah juga terus meningkat. Menjelang tahun 90-an. perhatian juga ditujukan untuk membantu ALB yang ada di sekolah biasa. Perhatian ini terwujud dalam berbagai penelitian tentang keberadaan ALB dan berbagai program pelatihan untuk membantu ALB yang berada di sekolah biasa. khususnya para penyandang kesulitan belajar. A. DEFINISI PELAYANAN Kata pelayanan dalam bahasa asing di sebut service. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997: 571), pelayanan diartikan sebagai : 1. Perihal atau cara melayani 2. Usaha melayani kebututuhan orang lain dengan memperoleh imbalan atau uang 3. kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli baranga atau jasa Suatu pelayanan dikatakan berhasil atau berkualitas tinggi jika layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan para pengguna pelayanan. Inilah yang merupakan kata kunci dalam keberhasilan pelayanan, lebih-lebih dalam konteks pelayanan bagi anak luar biasa. Oleh karena itu, kaitan kebutuhan dan pelayanan harus selalu anda pegang teguh. 1. Makna dan Jenis Pelayanan bagi Anak Luar Biasa Bagi penyandang keluarbiasaan, layanan mempunyai makna yang cukup besar karena memang mereka memerlukan pelayanan ekstra, yang berbeda dari layanan yang diberikan kepada orang-orang yang tidak menyandang keluarbiasaan. Sesuai dengan jenis keluarbiasaan yang mereka sandang , mereka mempunyai perbedaan dalam kemampuan belajar, perkembangan sosio-emosional yang berdampak pada kemampuan bersosialisasi, serta kondisi fisik dan kesehatan. Keluarbiasaan ini dapat berkombinasi sehingga kebutuhan layanan yang diperlukan menjadi semakin komplek, dan makin jauh berbeda dari layanan yang dibituhkan orang biasa. Dengan demikian, kebutuhan para ALB merupakan sesuatu yang khas yang harus dijadikan landasan dalam pelayanan, agar pelayanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan. Perbedaan-perbedaan yang dimiliki seseorang tidak selalu berarti bahwa seseorang penyandang keluarbiasaan memerlukan pelyanan khusus dalam semua bidang atau sepanjang waktu. Beberapa diantara mereka mungkin hanya memerlukan pelayanan khusus dalam bidang tertentu, seperti layanan pendidikan khusus bagi tunarungu atau layanan kesehatan secara ekstera bagi tunadakasa. Selebihnya, mereka dapat memanfaatkan layanan yang disediakan untuk umum. Jenis dan durasi layanan yang diperlukan juga bervariasi secara individual tergantung dari jenis dan tingkat keluarbiasan yang disandangnya. Namun yang perlu kita ingat, terlepas dari jenis dan frekuensi layanan yang diperlukan oleh penyandang keluarbiasaan, pelayanan khusus merupakan kebutuhan utama para penyandang keluarbiasaan. Tanpa tersedianya pelyanan khusus, potensi yang mereka miliki tidak akan berkembang, bahkan sebaliknya mungkin tenggelam dan memperparah kondisi keluarbiasaan mereka. Oleh karena itu pelayanan bagi ALB merupakan kebutuhan dasar yang seharusnya disediakan oleh negara dan masyarakat. Jenis pelayanan dapat dibedakan menjadi tiga kategori sebagai berikut : a. Layanan yang berkaitan dengan bidang kesehatan dan fisik, seperti kebutuhan yang berkaitan dengan kordinasi gerakan anggota tubuh dan berbagai jenis gangguan kesehatan, melibatkan berbagai profesional, seperti ahli terapi fisik (physical therapist occupational therapist) dan berbagai dokter ahli. b. Layanan yang berkaitan dengan kebutuhan emosional sosial, seperti kebutuhan yang berkaitan dengan konsep diri, penyesuaia diri dengan lingkungan/masyarakat sekitar, menghadapi peristiwa penting dalam hidup, dan kebutuhan bersosialisasi. Layanan ini melibatkan psikolog dan pekerja sosial. c. Layanan yang berkatan dengan kebutuhan pendidikan, yang merupakan kebutuhan terbesar para penyandang keluarbiasaan, melibatkan ahli pendidikan dari berbagai bidang dan psikolog. 2. Sejarah Perkembangan Layanan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Untuk membantu para penyandang keluarbiasaan berkembang secara optimal, sudah selayaknya negara menyediakan layanan khusus bagi mereka. Namun, apabila kia tengok sejarah perkembangan layanan inin, terutama di Indonesia tampaknya keberadaan layanan tersebut sangat terlambat dibandingkan layanan yang sudah ada di negara-negara lain. Mitos yang masih hidup hingga sekarang seperti yang mengatakan bahwa anak yang lahir cacat merupakan kutukan dan hukuman tuhan merupakan salah satu kendala menyediakan layanan khusus bagi penyandang keluarbiasaan. Pelayanan khusus bagi penyandang keluarbiasaan baru dapat ditelusuri mulai abad 16, ketika di Spanyol berhasil dididik seorang penyandang tunarungu sejak lahir. Dengan demikian, merupakan titik asal berdirinya sekolah untuk tunarungu. Meskipun keberadaan anak luar biasa sudah terdeteksi sejak dulu kala, pelayanan khusus yang berupa pendidikan luar biasa (PLB) di indonesia baru dapat ditelusuri mulai 1901 ketika institut untuk tunanetra didirikan di Bandung. Pendirian sekolah yang memberikan harapan ini, kemudian diikuti oleh pendirian sekolah luar biasa (SLB) untuk tunagrahita di Bandung pada tahun 1927 (Amin 1985). Meskipun pelayanan pendidikan terhadap ALB diprakarsai oleh swsta ( yaitu berbagai yayasan sosial) namun, gema pelayanan ini memberi makna tersendiri bagi perkembangan pelayanan PLB di Indonesia, termasuk peran pemerintah dalam menyediakan layanan ini. Sebagian besar sekolah dikelola oleh yayasan swasta dan sebagian kecil dikelola oleh pemerintah. Peraturan pemerintah tahun 1991 tentang pendidikan yang merupakan pedoman untuk penyelenggaraan PLB, menetapkan bahwa setiap anak berhak mendapat pendidikan sesuai dengan jenis keluarbiasaan yang disandangnya. Sejalan dengan peraturan tersebut, SLB dibedakan menjadi SLB-A untuk anak tunanetra, SLB-B untuk anak tunarungu, SLB-C untuk anak tunagrahita, SLB-D untuk anak tunadaksa dan SLB-E untuk anak tunalaras. Disamping itu, untuk anak berbakat sebenarnya dibuka SLB-F, namun kini mereka lebih banyak bersekolah di sekolah unggul, dan untuk tunaganda disediakan SLB-G. Terkait dengan peraturan yang dikeluarkan pemerintah, pemerintah mendirikan beberapa SLB Negeri bahkan mendirikan SLB Pembina tingkat provinsi dan SLB pembina tingkat nasional. Diantara SLB pembina tingkat nasional tersebut adalah SLB-B di Denpasar, SLB-C di Lawang, Malang serta SLB-A di Jakarta. Pemerintah juga mendirikan sekolah terpadu, yaitu sekolah dasar biasa yang juga melayani anak lur biasa, dan SDL B, yaitu sekolah dasar yang memberi layanan pada ALB dari semua jenis. Sekolah terpadu bertujuan untuk memberi kesempatan kepada ALB yang memenuhi syarat bersekolah bersama anak-anak normal lainnya. Pada perkembangan selanjutnya, sekolah terpadu tidak hanya diselenggarakan pada jenjang SD tetapi juga pada jenjang SLTP dan Sekolah Menengah begitupun dengan pihak swasta. Dari hasil survei yang dilakukan pada tahun 1988 oleh tim konsultan PLB, ternyata pendirian SLB kadang-kadang dimulai di sebuah garasi keluarga, yang menampung ALB dari sekitarnya. Selanjutnya sekolah ini dikembangkan menjadi salah satu SLB yang bernaung di bawah yayasan tertentu. Dari dari direktorat Pendidikan Dasar menunjukkan adanya kenaikan jumlah sekolah negeri dan swasta seperti yang terlihat pada tabel berikut : No Jenis sekolah Jumlah siswa Jumlah siswa 1991/1994 1998/1999 1993/1994 1998/1999 1. SLB Negeri 23 35 2.055 2.875 2. SLB Swsata 583 811 27.930 33.974 3. SDLB (Negeri) 209 218 8.385 9.135 4. Pendidikan Terpadu (Negeri) 84 184 246 961 Jumlah 899 1.248 38.616 46.945 Untuk memenuhi kebutuhan guru, bagi sekolah luar biasa pada tahun 1953 didirikan PGTLB dengan siswa yang berasal dari lulusan SMP dan didik selama 3 tahun. Tamatan atau lulusan dari sekolah ini mengajar di SD Luar Biasa. Namun, dengan adanya peningkatan kualifikasi guru di semua jenjang, SGPLB kemudian dihapus dan pendidikan guru bagi SLB sepenuhnya dilakukan di jenjnag pendidikan tinggi yang dilaksanakan oleh IKIP dan FKIP ketika itu. Berbagai perhatian terhadap keberadaan anak luar biasa di sekolah biasa mulai meningkat. Yayasan Panthara yang diketuai oleh ibu Atie Wardiman Dojonegoro, bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Dasar, memprakarsai pelatihan bagi guru SD biasa dalam menangani anak-anak berkesulitan belajar yang ada di SD. Pelatihan ini tentu sangat besar artinya bagi para guru karena mereka dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan. Disamping pelatihan, berbagai penelitian tentang keberadaan atau profil anak luar biasa di sekolah biasa mulai dilakukan. Salah satu penelitian yang mengungkapkan profl tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan (Herry Widyastono, dkk, 1997). Penelitian yang dilakukan di empat provinsi, yaitu Jawa Barat. Lampung, Kalimantan Barat, dan Jawa Timur tersebut mengungkapkan profil siswa SD yang memerlukan layanan khusus sebagai berikut: 1. Bagi yang mengalami gangguan komunikasi : 65,2 % 2. Mengalami kesulitan berhitung : 57,5 % 3. Mengalami kesulitan membaca : 51,2 % 4. Memiliki intelegensi tinggi (> rata-rata) : 45,8 % 5. Menglami kesulitan menulis : 31,7 % 6. Memiliki intelegensi rendah : 25,0 % 7. Menglami gangguan emosi/perilaku : 21,8 % 8. Gangguan kesehatan dan gizi : 13,4 % 9. Prestasi belajar rendah (nilai rata-rata <6) : 13,9 % 10. Gangguan penglihatan : 4,4 % 11. Gangguan anggota tubuh atau gerakan : 4 % 12. Gangguan pendengaran : 1 % Melihat hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa presentae anak-anak yang mengalami gangguan penglihatan atau tunanetra, gangguan anggota tubuh (tunadaksa), gangguan pendengaran (tunarungu) sangat kecil dibandingkan dengan presentase anak yang menderita keliarbiasaan yang lain. Sementara itu, presentase anak-anak yang mengalami kesulitan belajar cukup tinggi. II. Berbagai Bentuk Dan Jenis Layanan Bagi Anak Luar Biasa (ALB) Dalam PLB dikenal dua bentuk layanan yang sampai kini masih menimbulkan silang pendapat, yaitu layanan terpisah (segregasi) dan layanan terpadu (integrasi). Layanan segregasi mendidik ALB secara terpisah dari anak norrnal, sedangkan layanan integrasi mendidik ALB di sekolah biasa bersama anak normal. Kedua bentuk layanan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan masing-masing. Di antara layanan integrasi dan segregasi penuh dapat dikem-bangkan berbagai jenis layanan dengan tingkat segregasi dan integrasi yang bervariasi. Dalam kondisi tertentu, integrasi dapat berupa integrasi fisik, integrasi sosial, dan integrasi yang paling kompleks yaitu integrasi dalam pembelajaran. Model atau jenis pelayanan yang dapat disediakan bagi ALB adalah: (1) sekolah biasa. (2) sekolah biasa dengan guru konsultan, (3) sekolah biasa dengan guru kunjung (4) sekolah biasa dengan ruang sumber (5) model kelas khusus. (6) model sekolah khusus, dan (7) model panti asuhan/rehabilitasi. Pendekatan kolaboratif dalam pelayanan ALB berasumsi bahwa layanan terhadap ALB akan menjadi lebih efektif jika dilakukan oleh satu tim yang berasal dari berbagai bidang keahlian, yang bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan ALB. Dalam menangani ALB yang ada di sekolah biasa, guru dapat berkolaborasi dengan teman sejawat, kepala sekolah, dan orang tua siswa. A. PELAYANAN SEGREGASI DAN INTEGRASI Dalam istilah pendidikan luar biasa (PLB), Pendidikan terpisah disebut segresi dan pendidikan terpadu disebut sebagai integrasi. Debat antara segresi dan integrasi diantara para pakar PLB sudah berlangsung sejak lama karena masing-masing pihak mempunyai alasan yang kuat untuk mempertahankan pilihan. Bentuk layanan pendidikan segresi memisahkan ALB dari anak normal. Dengan demikian ALB mempunyai sekolah sendiri, demikian pula anak normal mempunyai sekolah yang tidak ada kaitannya dengan sekolah untuk ALB. Alasan para pendukung pelayanan pendidikan memisahkan ALB dari anak normal itu antara lain sebagai berikut : 1. Dalam layanan segresi (terpisah) ALB akan mendapat perlakuan/ perhatian yan lebih intensif karena para guru memang disiapkan khusus untuk melayani mereka. 2. Dalam layanan segersi, para ALB merasa senasib sehingga dapat bergaul lebih akrab. 3. Keinginan untuk bersaing dalam pendidikan segresi mungkin lebih tinggi karena para ALB merasa mempunyai kemapuan setara sehingga kesempatan untuk unggul akan semakin terbuka. Jika kita kaji alasan para pendukung layanan segresi, tampaknya ada benarnya juga. Namun, kelemahan layanan segresi juga harus diperhitungkan. Jika ALB selalu dididik secara terpisah, mereka seolah-olah mempunyai dunia sendiri yang terisolasi dari luar. Disamping itu, mereka juga tidak pernah mendapat tantangan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik karena teman-teman mereka mempunyai kemampuan yang hampir sama. Kerugian atau kelemahan lain adalah masyarakat luas tidak mengenal secara benar sehingga mereka tidak dapat menghargai ALB, padahal jika mendapat layanan yang sesuai, ALB juga mampu mengembangkan potensinya secara optimal, yang kadang-kadang dalam bidang tertentu melebihi kemampuan anaka normal. Sedangkan layanan dalam bentuk terpadu atau integrasi menyediakan pendidikan bagi ALB di sekolah yang sama dengan anak normal. Melalui pendidikan terintegrasi, para ALB dapat menghayati dunia yang sama dengan anak normal, demikian pula dengan anak normal akan mendapat kesempatan menghayati keanekaragaman dalam hidup. Anak normal dan masyarakat luas akan menyadari bahwa setiap individu mempunyai karakteristik yang khas, yang harus diterima sebagai sesuatu yang wajar. Disamping itu, pendidikan integrasi akan membuat ALB dan anak normal saling belajar sehingga tidak ada jurang pemisah antara anak normal dan ALB. Sebaliknya penentang layanan terinrtegrasi melihat bahwa pendidikan terintegrasi akan membawa dampak buruk bagi ALB karena mereka tidak mereka tidak akan mendapat layanan seuai denga kebutuhannya. Selain itu juga, kemungkinan ALB akan menjadi bahan ejekan bagi anak normal terbuka luas, jika ini terjadi ALB akan semakin terpuruk. Bagi anak normal pun, pendidikan terintegrasi ini dianggap berdampak buruk karena dapat menghambat perkembangan mereka dan bisa jadi mereka akan terpengaruh oleh perilaku negatif ALB. Terlepas dari berbagai pertentangan antara penganut layanan segeresi dan integrasi, konsep layanan terpadu tampakanya semkain populer, bahkan sampai pada bentuk yang paling ekstrem, yang disebut inclusion, yang pada dasarnya berarti termasuk atau tergolong didalamnya. Artinya, setiap anak diakui sebgai bagian dari anak-anak lain yang ada dalam satu sekolah. Beranjak dari konsep inclusion tersebut, pada praktiknya, ALB disekolahkan di sekolah yang terdekat dengan tempat tinggalnya, terlepas dari tingkat keluarbiasaan yang disandang. Ini berarti anak tuna rungu berat atau tuna grahita berat juga dapat bersekolah di sekolah yanh terdekat dari rumahnya, yaitu di sekolah biasa. Inilah yang ditentang oleh beberapa pakar PLB, seprti Kauffman dan Margearet Wang. Menurut mereka, semestinya sekolah biasa hanya menerima ALB yang sesuai untuk masuk di sekolah tersebut, bukan menerima semua anak yang berdomisili di sekitar sekolah itu. Para penyandang keluarbiasaan yang cukup parah tidak mungkin dilayani di sekolah biasa. Mereka memerlukan pelayanan di sekolah yang diatur secara khusus agar mampu memenuhi kebutuhan perwatan kesehatan dan latihan dalam menguasai ketrampilan hidup sehari-hari. Selanjutya, Margaret Wang menekankan agar fokus perhtian para pendidik diletakkan pada kekuatan anka dan bukan pada hal-hal yang menyimpang pada anak. Oleh karena itu, pengintegrasian anak hendaknya jangan hanya mempertimpangkan keluarbiasaan anak, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan anak. Setiap penyandang keluarbiasaan mempunyai potensi atau kekuatan unytuk mengimbangi keluarbiasaan yang disandangnya dan inilah yang harus dikembangkan dalam memberikan pelayanan. Menurut Reynold dan Birch (1998) dikaji model integrasi sebagai berikut : 1. Integrasi fisik : Integrasi ini terjadi dalam bentuk kebersamaan antara anaka normal dan ALB, Seperti mereka berada bersama-sama dalam ruangan bermain. 2. Integrasi Sosial : Integrasi ini terjadi jika anatara ALB dan anak normal terjadi komunikasi, misalkan saling menyapa dan barcanda gurau. 3. Integrasi Pembelajaran : Integrasi ini terjadi jika ALB dan anak normal belajar bersama-sama. Dengan cara menerapkan model pengintegrasian seperti diatas, diharapkan kebutuhan pendidikan ALB akan dapat terpenuhi, baik dari segi sosialisasi dengan anak normal maupundari segi kebutuhan pribadi. Satu hal yang perlu dijaga adalah terpenuhinya kebutuhan ALB secara optimal sehingga potensi yang mereka miliki juga dapat berkembang secara optimal. Dengan mengacu kepada model pengintegrasian di atas, kita dapat membuat rentangan pengintegrasian menurut jenis pelayanan pendidikan sebagai berikut : Integrasi penuh Sekolah biasa (SD, SLTP, SMU,dll) Kelas Biasa yang menyediakan layanan PLB Sekolah biasa dengan ruang sumber Sekolah terpisah (SLB) Sekolah terpisah dengan asrama (Residentia) Panti asuhan/perawatan dan rumah sakit Segregrasi penuh Gambar Rentangan Pelayanan PLB Dari gambar diatas dapat anda lihat rentangan layanan PLB dari integrasi penuh (ALB berada di sekolah biasa) sampai dengan segregrasi penuh, yaitu ALB berada di panti-panti atau di rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan. Diantara kedua ekstrem tersebut terdapat berbagai vareasi, seperti ALB yang bersekolah di sekolah biasa tetapi sewaktu-waktu mendapatkan layanan PLB dikelas tersebut yang sering disebut sebagai self-contained classroom, kemudian sekolah atau kelas biasa, namun sewaktu-waktu ALB meninggalkan kelas untuk mendapatkan layanan di luar sumber. Rentangan berikutnya yang sudah mengarah kepada segregrasi adalah sekolah terpisah yaitu SLB ; selanjutnya sekolah terpisah yang berasrama dan akirnya yang dapat disebut segregrasi penuh adalah panti-panti atau rumah yang memberikan layanan kesehatan dan pendidikan bagi ALB. Dengan berbekalkan pada pemahaman, kita akan mengkaji jenis-jenis layanan PLB yang umumnya tersedia, terutama di negara-negra maju. Pendidikan anak berbakat hasil umpan balik untuk ketentuan tertentu, pemantulan tingkat kemantapan, penguasaan suatu materi sesuai dengan sifat, ketrampilan dan kemampuan maupun kecepatan belajar seseorang. Model pengukuran seperti tersebut di atas adalah pengukuran acuan kriteria. Selanjutnya ada pengukuran acuan norma yang membandingkan keterbakatan dengan temannya. Kedua cara tersebut tidak selalu menunjuk hasil akhir yang diinginkan melainkan merupakan petunjuk bidang mana yang sudah dikuasai individu sehingga memberikan keterangan mengenai cara kemampuan yang dicapai tanpa tergantung pada kinerja temannya. Penting untuk diperhatikan bahwa sebaiknya disertai dengan saran mengenai model evaluasi yang perlu diterapkan, apakah tes ataupun non tes. B. MODEL ATAU JENIS PELAYANAN YANG DAPAT DISEDIAKAN BAGI ALB 1. Sekolah biasa Dalam model layanan ini, ALB bersekolah disekolah biasa bergabung dengan anak normal dengan guru umum. 2. Sekolah biasa dengan guru konsultan Dalam model layanan ini ALB bersekolah di sekolah biasa. Sekolah tersebut dibantu oleh guru PLB sebagai konsultan bagi para guru, kepala sekolah, dari orang tua ALB yang berada disekolah tersebut 3. Sekolah biasa dengan guru kunjung Model ini hampir sama dengan model guru konsultan. ALB bersekolah di sekolah biasa, dengan para guru yang mengajar disekolah tersebut, dibantu oleh guru kunjung. Guru kunjung ini adalag guru PLB yang bertugas di lebih dari satu sekolah 4. Model ruang sumber Dalam model ini, ALB belajar di kelas atau sekolah biasa yang di lengkapi dengan ruang khusus yang disebut ruang sumber atau dapat pula disebut sebagai ruang bimbingan khusus. ALB belajar bersama-sama dengan siswa yang normal namun pada waktu tertentu, ALB meninggalkan kelas biasa dan pergi keruang sumber untuk mendapat bimbingan dari guru pembimbing khusus (GPK) 5. Model kelas khusus Dalam model ini, layanan untuk ALB diberikan dikelas-kelas khusus terpisah dari anak-anak normal. Kelas khusus ini mungkin berada disekolah biasa tetapi mungkin juga di tempat lain. Dengan demikian, ALB mempunyai kelas sendiri dengan para guru yang disiapkan untuk melayani ALB jenis tertentu. 6. Model sekolah khusus siang hari Model ini menyediakan layanan bagi ALB dalam satu sekolah khusus pada siang hari (hari sekolah), sedangkan pada waktu diluar hari atau jam sekolah, para ALB berada di rumah bersama keluarga dan di lingkungan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, sekolah ini khusus disiapkan bagi ALB 7. Model sekolah dama panti asuhan atau rumah sakit Dalam model ini, layanan pendidikan bagi ALB diberikan di panti-panti asuhan atau rumah sakit tempat ALB dirawat. Misalnya, untuk anak-anak yang menderita cerebral palsy, yang memerlukan perawatan intensif atau bagi penyandang tuna ganda, panti atau rumah sakit merupakan tempat tinggal mereka sekaligus sebagai tempat pendidikan bagi mereka. Dengan demikian, penghuni panti atau sekolah di rumah sakit ini pada umumnya merupakan ALB dengan tingkat kelainan yang cukup parah sehingga memerlukan tempat khusus untuk perwatan kesehatan. C. PENDEKATAN KOLABORATIF DALAM PELAYANAN ALB Pelayanan untuk ALB merupakan salah satu kegiatan atau proses yang sangat kompleks yang memerlukan kerja sama dari berbagai pakar/personel yang terkait dengan ALB. Pelayanan untuk ALB pada hakikatnya tidak mungkin dilakukan oleh satu orang. Untuk memenuhi kebutuhan layanan bagi ALB, pelayanan tersebut harus diberikan dengan benar-benar komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan mereka, pelayanan ini harus diberikan oleh satu tim yang bekerja sama untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi ALB. Inilah esensi dari pendekatan kolaboratif atau sering juga disebut pendektan tim (team approach), yang berasumsi bahwa pelayanan yang efektif hanya akan terjadi jika pelayanan ini diberikan oleh satu tim yang bekerja sama dalam membantu ALB mengembangkan potensinya secara optimal. Kerja sama atau kolaborasi diwujudkan dengan pertemuan bersama yang membahas kasus yang ditangani. Setiap anggota tim akan menbahas kasus dari bidang keahliannya masing-masing. Dan berdasarkan pembahasan tersebut, tim akan mengambil keputusan yang akan ditidak lanjuti oleh seluruh tim. Mereka yang mungkin terlibat sebagai anggota tim pelayanan pendidikan bagi ALB berasal dari berbagai bidang keahlian yang relevan dengan kebutuhab ALB yang dilayani. Secara umum, anggota tim mencakup para pakar/pesonel berikut : 1. Guru sekolah biasa 2. Guru PLB 3. Pengawas sekolah 4. Kepala Sekolah 5. Orang tua ALB 6. ALB sendiri 7. Psikolog sekolah 8. Speech (guru bina wicara dan persepsi bunyi) 9. Dokter dari berbagai keahlian (dokter spesialis) 10. Perawat sekolah 11. Guru pendidikan jasmani yang sudah mendapat pelatihan khusus untuk menangani ALB 12. Ahli terapi fisik (phisical therapist) 13. Pekerja sosial dan konselor 14. Personil lain sesuai dengan keperluan. Kolaborasi dilakukan sejak awal perencanaan palayanan sampai dengan penilaian dan tindak lanjut pelayanan. Dalam setiap tahap pelayanan, tim mengambil keputusan tentang tindak lanjut yang harus dilakukan sehingga keberhasilan atau kegagalan pelayanan terhadap ALB merupakan tanggung jawab tim bukan perorangan. Menurut Reynold & Birch (1988) paling tidak dapat berkolaborasi dengan teman sejawat (guru lain di Sekolah tersebut) dan dengan orang tua siswa. Berkaitan dengan hal ini, sebagai satu tim, guru diharapkan melakukan hal-hal berikut terhadap orang tua siswa : 1. Memberikan supervisi kepada orang tua yang ingin membantu guru dalam mendidik anaknya 2. Menilai kemajuan siswa, serta melaporkan dan menginterprestasikan hasil penilaian tersebut pada orang tua siswa. 3. Bekerja sama dengan orang tua siswa dalam membuat perencanaan dan mengambil keputusan yang berkaitan dengan kebijakan dan penyelenggaraan sekolah. 4. Berkonsultasi dengan orang tua siswa tentang situasi sekolah dan situasi rumah yang mungkin mempengaruhi anak. 5. Jika dainggap perlu dan tepat, guru bertindak sebagai orang tua terhadap siswa asuhannya. D. BAGAIMANA MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN Sebagaimana diketahui, bahwa pendidikan bagi anak tidak selalu harus berlangsung di suatu lembaga pendidikan khusus, sebab sebagian dari mereka (anak tunadaksa) pendidikannya dapat berlangsung di sekolah dan kelas reguler/sekolah umum. Hal ini disebabkan oleh faktor kemampuan dan ketidakmampuan anak tunadaksa dan lingkungannya. Evelyn Deno, (1970) dan Ronald L Taylor, (1984) menjelaskan sistem layanan pendidikan bagi anak luar biasa (termasuk anak tunadaksa) yang bervariasi, mulai dari sistem pendidikan di kelas dan sekolah reguler/umum sampai pendidikan yang diberikan di suatu rumah sakit, bahkan sampai pada bentuk layanan yang tidak memiliki makna edukasi sama sekali, yakni layanan yang diberikan kepada anak-anak tunadaksa dalam perawatan medis dan bantuan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Dari kenyataan di lapangan bahwa anak tunadaksa memiliki problema penyerta. Problema penyerta ini berbeda-beda antara seorang anak tunadaksa yang satu dengan anak tunadaksa yang lainnya, tergantung dari pada penyebab ketunaannya, berat ringannya ketunaannya. Atas dasar kondisi anak tunadaksa tersebut, maka model pelayanan pendidikannya dibagi pada “Sekolah Khusus” dan “Sekolah Terpadu/Inklusi”. A. Sekolah Khusus Pelayanan pendidikan bagi anak tunadaksa di sekolah khusus ini diperuntukkan bagi anak yang mempunyai problema lebih berat, baik problema penyerta intelektualnya seperti retardasi mental maupun problema penyerta kesulitan lokomosi (gerakan) dan emosinya. Di sekolah khusus ini pelayanan pendidikannya dibagi menjadi dua unit, yaitu unit sekolah khusus bagi anak tunadaksa ringan, dan unit sekolah khusus bagi anak tunadaksa sedang. 1. Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Ringan (SLB-D) Pelayanan pendidikan di unit tunadaksa ringan atau SLB-D diperlukan bagi anak tunadaksa yang tidak mempunyai problema penyerta retardasi mental, yaitu anak tunadaksa yang mempunyai intelektual rata-rata atau bahkan di atas rata-rata intelektual anak normal. Namun anak kelompok ini belum ditempatkan di sekolah terpadu/sekolah umum karena anak masih memerlukan terapi-terapi, seperti fisio terapi, speech therapy, occuppational therapy dan atau terapi yang lain. Dapat juga terjadi anak tunadaksa tidak ditempatkan di sekolah reguler karena derajad kecacatannya terlalu berat. 2. Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Sedang (SLB-D1) Pelayanan pendidikan diunit ini, diperuntukkan bagi anak tunadaksa yang mempunyai problema seperti, emosi, persepsi atau campuran dari ketiganya disertai problema penyerta retardasi mental. Kelompok anak tunadaksa sedang ini mempunyai intelektual di bawah rata-rata anak normal. B. Sekolah Terpadu/Inklusi Bagi anak tunadaksa dengan problema penyerta relatif ringan, dan tidak disertai dengan problema penyerta retardasi mental akan sangat baik jika sedini mungkin pelayanan pendidikannya disatukan dengan anak-anak normal lainnya di sekolah reguler/sekolah umum. Karena anak tunadaksa tersebut sudah dapat mengatasi problema fisik maupun intelektual serta emosionalnya. Namun walaupun kondisi penyerta anak tunadaksa cukup ringan, sekolah reguler yang ditunjuk untuk melayani pendidikannya perlu persiapan yang matang terlebih dahulu, baik persiapan sarana maupun prasarananya. Seperti persiapan aksesibilitas misalnya meminimalkan trap-trap atau tangga-tangga. Jika memungkinkan dibuatkan ramp-ramp untuk akses kursi roda, atau bagi anak yang khusus menggunakan alat bantu jalan lainnya seperti kruk atau wolker. Bentuk meja atau kursi belajar disesuaikan dengan kondisi anak. Hal demikian memerlukan persiapan yang lebih terencana, sehingga tidak menimbulkan problema tambahan bagi anak tunadaksa. Juga bentuk toilet, kloset harus dapat dipergunakan bagi anak yang menggunakan kursi roda. Disamping itu sistem guru kunjung dapat membantu memecahkan permasalahan yang mungkin timbul pada anak tunadaksa dikemudian hari. E. KETENAGAAN KHUSUS, KURIKULUM DAN ADMINISTRASI A. Ketenagaan 1. Tenaga Kependidikan Tenaga kependidikan untuk Pendidikan Luar Biasa bagian D (tunadaksa) adalah guru yang secara khusus mempersiapkan diri untuk mengajar anak tunadaksa yang mempunyai berbagai masalah dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai dengan Tingkat Menengah. Disamping itu juga dapat merencanakan dan melaksanakan tugas pendidikan bagi anak yang sedang dalam perawatan karena operasi. a. Tenaga Guru yang Diperlukan adalah : 1. Guru Kelas atau Guru Bidang Studi 2. Guru Keterampilan 3. Guru Agama 4. Guru Olahraga b. Persyaratan Tenaga Guru/Pendidik adalah: 1. Tamatan minimal SGPLB, sarjana muda/DIII, sarjana pendidikan luar biasa dari IKIP/Universitas. 2. Untuk guru agama dari PGA, DIII, S1 IAIN atau sederajat. 3. Untuk guru olahraga dari DIII, S1 IKIP atau Universitas. 4. Untuk guru keterampilan DIII, S1 IKIP/Universitas 5. Untuk guru bidang studi minimal DIII, S1 IKIP/Universitas dari jurusan yang sesuai. 2. Tenaga Ahli Tenaga Ahli yang diperlukan untuk: a. Remedial Teaching Guru yang mendapat tugas khusus untuk remedial atau bertugas memberi bimbingan dan penyuluhan. b. Team Rehabilitasi - Dokter umum - Orthopedagogik - Dokter anak - Speech therapist - Dokter anak pediatry - Occupational therapist - Dokter ortopedi - Pekerja sosial - Psikolog 3. Tenaga Administrasi Tenaga administrasi untuk pendidikan luar biasa bagian D (tunadaksa) adalah : a. Kepala Sekolah b. Wakil Kepala Sekolah c. Bendahara d. Tenaga Usaha, yang dapat melaksanakan : agendaris, inventaris dan pengetikan e. Pesuruh/pembantu sekolah 4. Penjaga Sekolah/SATPAM Petugas yang diberi wewenang untuk menjaga keamanan/ memeli-hara ketertiban sekolah. B. Kurikulum Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum PLB tahun 1994, yang terdiri dari : 1. Landasan Program 2. Garis-garis Program Pengajaran 3. Pedoman Pelaksanaan C. Administrasi Administrasi yang digunakan adalah administrasi yang sesuai dengan pedoman administrasi yang telah dibukukan antara lain : 1. Administrasi Program Pengajaran 2. Administrasi Kepegawaian 3. Administrasi Keuangan 4. Administrasi Perlengkapan dan Barang. BAB III PENUTUP Kesimpulan Pelayanan bagi anak luar biasa (ALB) merupakan satu kebutuhan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ALB) secara optimal. Tanpa tersedianya pelayanan khusus, potensi yang mereka miliki tidak akan berkembang, bahkan sebaliknya mungkin tenggelam dan memperparah kondisi keluarbiasaan mereka. Suatu pelayanan dikatakan berhasil atau berkualitas tinggi jika layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan para pengguna layanan. Dalam PLB dikenal dua bentuk layanan yang sampai kini masih menimbulkan silang pendapat yaitu layanan terpisah (segresi) dan layanana terpadu (integrasi). Pelayanan segregasi mendidik ALB secara terpisah dari anak normal, sedangkan layanan integrasi mendidik ALB di sekolah biasa bersama anak normal. Kedua bentuk layanan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan masing-masing. Diantara layanan integrasi dan segregasi penuh dapat dikembangkan berbagai jenis layanan dengan tingkat segregasi dan integrasi yang bervariasi. Dalam kondisi tertentu, integrasi dapat berupa integrasi fisik, sosial, dan integrasi yang paling kompleks, Yaitu integrasi dalam pembelajaran . Model atau jenis pelayanan yang disediakan bagi ALB adalah sekolah biasa, sekolah biasa dengan guru konsultan, sekolah biasa dengan guru kunjung, sekolah biasa dengan ruang sumber, model kelas khusus, model sekolah khusus dan model panti asuhan atau rehabilitasi. Pendekatan kolaburatif dalam pelayanan ALB berasumsi bahwa layanan terhadap ALB akan menjadi lebih efektif jika dilakukan oleh satu TIM yang berasal dari berbagai bidang keahlian, yang bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan ALB. DAFTAR PUSTAKA 1. www.e-dukasi.net 2. www.ensiklopedi.net 3. Modul Mata Kuliah Ortopedagogik

Komentar :

No Komen : 1
:: 29-04-2013 02:07:10
 
Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]